A Modern Horror Masterpiece

A Modern Horror Masterpiece

Judul: Hereditary
Sutradara: Ari Aster

Pemeran: Toni Collette, Alex Wolff, Milly Shapiro, Ann Dowd, Gabriel Byrne.
Rilis: Juni 2018

Saya baru saja selesai menonton film horror yang sangat bagus dan sebelum saya melupakan semua kesan yang saya dapat, saya buru-buru menuliskannya di blog ini. Judul filmnya Hereditary. Awalnya, saya berniat menonton karena melihat trailernya yang menarik perhatian. Kamera menyorot miniatur sebuah kamar dan berubah menjadi kamar yang sesungguhnya. Peti mati yang turun ke dalam tanah secara mekanis diikuti oleh kamera yang seolah tenggelam ke dalam tanah. Seorang gadis kecil memotong kepala merpati yang sudah mati. Dan seorang remaja pria yang membenturkan kepala ke meja dengan keras. Setelah menonton trailer itu, saya berkata dalam hati, saya harus menontonnya! Namun saya melupakannya hingga film ini tidak lagi tayang di XXI. Beruntung CGV masih menayangkannya. (Sepertinya CGV menayangkan film lebih lama dari XXI.) Dan berangkatlah saya bersama adik saya untuk menonton. Spoiler alert!

Saya memesan minuman mangga yang dingin sebelum memasuki teater. Setelah duduk di kursi yang nyaman dan menyaksikan beberapa cuplikan film-film dalam negeri yang akan rilis—yang beberapa iantaranya cukup menarik, filmnya akhirnya mulai. Gambar ruangan tempat membuat miniature—seperti yang di trailer—muncul pertama kali.  Di awal film ditampilkan pemakaman seorang wanita tua. Annie, anak perempuan wanita itu, menjadi agak depresi dan bergabung di grup konseling. Ia memiliki seorang suami yang sabar bernama Steve, seorang anak lelaki bernama Peter yang merokok ganja, dan Charlie, seorang anak perempuan aneh yang memiliki alergi terhadap kacang, suka menggambar, suka membuat miniatur seperti ibunya dengan benda-benda yang ia dapatkan—seperti membuat boneka dengan kepala merpati yang ia gunting dari jasadnya—dan memiliki kebiasaan membuat bunyi klik dengan lidahnya. Pemeran Charlie memiliki proporsi wajah unik yang cocok sebagai aktris film horror. Dia bahkan memiliki kantung mata.

https://i1.wp.com/data.junkee.com/wp-content/uploads/2018/06/hereditary-1.jpg
Charlie

Kekacauan mulai terjadi saat Annie memaksa Charlie ikut kakaknya ke pesta. Tentu saja ia canggung berada di pesta yang dihadiri oleh anak-anak yang lebih besar. Peter menyuruh Charlie untuk mencicipi kue di pesta itu sementara ia pergi merokok ganja dengan teman-temannya. Lalu Charlie sesak napas—mungkin karena kue itu mengandung kacang. Peter segera membawa Charlie pergi dari tempat pesta dengan mobil. Charlie hampir mati tercekik. Ia membuka kaca dan menjulurkan kepala untuk mendapatkan udara lebih banyak. Sesuatu menghalangi jalan Peter saat sedang ngebut-ngebutnya membuatnya harus agak menepi dengan kecepatan yang masih sama, kepala Charlie masih di luar, dan tiang listrik mulai mendekat. Terjadilah hal yang membuat Peter terkejut setengah mati. Sesuatu jatuh ke aspal. Semua penonton di teater hening menyaksikan scene ini karena shock. Saya mengambil minuman mangga saya dan mulai meneguknya yang sialnya membuat saya ingin kencing karena dinginnya ditambah ruangan ber-AC yang sudah dingin. Peter tidak berani menatap rear-view mirrornya. Ia langsung pulang ke rumah lalu menuju kamarnya tanpa memeriksa jasad adiknya. Itu memberi saya a moment of silence yang ke dua. Maksudku, siapa yang bisa begitu saja naik ke tempat tidur setelah (tidak sengaja) membunuh adiknya sendiri???

Di pagi hari saat hendak pergi dengan mobil yang dipakai Peter semalam, Annie berteriak sejadi-jadinya. Dan gambar kepala Charlie yang membusuk dan dikerumuni semut-semut ditampilkan dengan sangat jelas. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan seorang ibu yang melihat jasad puterinya tanpa kepala? Yang membingungkan adalah Peter masih bisa tinggal di rumahnya setelah peristiwa tragis itu seperti biasa dan keluarga itu tidak terlalu mengungkitnya. Tapi ada adegan di mana Peter dan Annie beradu argument yang cukup saya sukai. Di situ Annie mengeluarkan semua perasaan yang ia pendam selama ini kepada Peter setelah kejadian itu. Film ini bisa dibilang adalah sebuah drama keluarga yang di campur dengan horror.

Singkat cerita, seorang wanita tua bernama Joan bertemu dengan Annie dan mengajarinya cara berkomunikasi dengan roh. Annie sulit untuk percaya meskipun sudah melihat gelas yang bergerak sendiri, merasakan napas di wajahnya, dan menyaksikan tulisan yang muncul sendiri di atas papan tulis kecil. Saat ia menyetir menuju rumah dengan pikiran yang masih linglung, ia mendengar bunyi klik yang sangat nyata seperti yang biasa Charlie buat. Seluruh penonton terkejut bahkan ada yang berteriak. Saya juga terkejut. Setelah itu beberapa penonton mulai membuat bunyi klik untuk lucu-lucuan yang bagi saya terdengar menyebalkan. Rasanya saya mau berteriak, “Stop clicking your damn toungues!” tapi tentu saja tidak saya lakukan karena saya tidak ingin menjadi pusat perhatian. Dan mereka terus membuat bunyi-bunyi itu tiap kali ada adegan mendebarkan.

https://shirokumosite.files.wordpress.com/2018/07/6601b-000.jpg?w=800&h=400
Ritual memanggil Charlie

Annie mengajak Steven dan Peter untuk mencoba berkomunikasi dengan Charlie. Saat melakukan ritual, Annie sempat dirasuki Charlie namun disadarkan oleh suaminya. Kejadian-kejadian semakin aneh. Annie jadi lebih sering berjalan saat tidur. Ia berhalusinasi melihat putranya dikerumuni semut-semut, persis seperti yang terjadi pada kepala Charlie. Peter mengalami mimpi-mimpi buruk. Ia merasa seperti melihat Charlie dan mendengar bunyi kliknya. (Penonton kembali membuat bunyi klik yang menyebalkan juga sampai saya bingung apakah bunyi itu dari film atau dari penonton.)

Hereditary tidak mengandalkan scariness dan jump scare seperti film-film horror kebanyakan. Ia lebih menonjolkan creepiness dan bizarreness. Akhir dari cerita ini bahkan tidak terduga. Lalu ditutup dengan music yang ceria. Benar-benar aneh dan tidak biasa, bukan?. Meski begitu, film ini adalah film bergenre horor terbaik yang pernah saya tonton. Saya beri nilai 10/10. Apakah saya berlebihan dengan memberikan nilai sempurna untuk Hereditary? Saya rasa tidak. Saya malah tidak mengerti kenapa orang menyatakan sangat suka terhadap sesuatu tapi memberi nilai 9. Saya menyarankanmu untuk menonton film ini sebab ia adalah “a modern horror masterpiece.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s