Keheningan Tuhan

Keheningan Tuhan

Saya membeli sebuah novel dari Tokopedia. Novelnya sudah lama saya incar tapi baru terbeli baru-baru ini. Judulnya Silence karya penulis Jepang Shusaku Endo. Jadi saya ingin beli novel ini karena sampulnya yang minimalis. (Kembali saya ingatkan bahwa saya suka menilai buku dari sampulnya).

Hal yang membuat saya tertarik pada novel ini adalah karena suka sejarah, Kristianitas, dan Jepang dan ketiganya ada di dalamnya. Ini adalah novel sejarah yang dirujuk dari sejarah yang benar-benar terjadi Jepang, yaitu misi penyebaran ajaran Kristen khususnya Katolisisme di Jepang oleh bangsa Portugis. Novel ini tebalnya 304 halaman termasuk kata pengantar yang lumayan panjang dari penerjemah bahasa Inggrisnya. Jadi si penerjemah bahasa Indonesia tidak menerjemahkan novel ini langsung dari bahasa Jepang, tapi dari bahasa Inggris. Kata pengantarnya berisi sejarah singkat tentang “abad Kristen” di Jepang. Sebenarnya saya tidak terlalu kaget membaca abad Kristen ini karena sewaktu kecil saya pernah nonton salah satu episode anime Samurai X yang menceritakan tentang persekusi orang Katolik.

Sebagian besar isi novel ini sesuai dengan fakta sejarah. Kehidupan tokoh utamanya, Sebastian Rodrigues, kabarnya diangkat dari kehidupan Giuseppe Chiara, seorang misionaris. Kisahnya berlatar di Jepang pada abad ke-17 di mana Kristianitas sudah menyebar di tanah Jepang berkat hubungan bilateral antara Jepang dan Portugis. Banyak pemilik tanah yang memeluk agama Katolik dan rakyat-rakyat jelata juga turut menjadi Katolik. Akan tetapi tiba-tiba saja kebencian terhadap bangsa Portugis dan Katolisisme yang berasal dari bangsa asing ini muncul yang menyebabkan persekusi yang bahkan menjadikan orang-orang Katolik ini sebagai martir.

Sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang orang pertama. Di bagian awal hingga pertengahan, pembaca akan membaca surat yang ditulis oleh Rodrigues sendiri. Setelah itu sudut pandang beralih menjadi sudut pandang orang ketiga di masa-masa sang pastor ditangkap dan dipenjarakan.

Perasaan saya saat membaca adalah sedih sebab membaca penderitaan demi penderitaan yang dialami oleh para petani Jepang yang polos dan lugu yang imannya sedang bertumbuh. siksaan demi siksaan yang mereka alami dan bagaiamna sikap mereka saat menghadapinya membuat saya getir. Belum lagi sang pastor yang harus melarikan diri, berpindah-pindah dari buruan samurai dan pengawal yang dipekerjakan untuk mencari orang-orang Katolik. Betapa menantang, tidak bebas, dan menakutkannya hidup sebagai misionaris kala itu.

Rodrigues bergulat dengan imannya sendiri. Di satu sisi dia hanya manusia biasa yang merasa takut. Tapi di sisi lain, dia adalah seorang pastor, seorang gembala orang-orang beriman yang baru tumbuh ini. Ia tidak ingin murtad, apa lagi melihat iman para petani yang kuat bahkan mereka lebih memilih mati dari pada melepaskan iman mereka. Ia bahkan sampai ke titik dimana ia mempertanyakan kebenaran Tuhan. Selama ini Tuhan hanya membisu melihat keadaan umatnya. Bayangkan betapa beratnya penderitaanya sampai dia yang seorang pastor bisa berpikir demikian.

Dari segi cerita, novel ini sangat menarik karena diangkat dari sejarah. Saya dapat merasakan kegetiran sang pastor karena pikirannya dituliskan dengan begitu detil. Novel ini memberi perasaan yang sedih sehingga saya tidak menyarankan kamu untuk membacanya saat harimu sedang buruk.

Saya memberi skor 9/10 untuk novel Silence karya Shusaku Endo ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s